kepemilikan website

Domain, hosting, dan kode website harus atas nama Anda

Banyak cerita buruk soal website berawal dari satu hal yang tidak dicek: akun-akunnya atas nama siapa. Apa yang harus jadi milik Anda, apa yang perlu ditanyakan, dan apa yang diminta saat serah terima.

Read in English
Daftar isi

Tahun lalu ada pemilik toko yang chat saya minta "ubah sedikit" di website-nya. Cuma ganti nomor telepon. Developer lamanya sudah berbulan-bulan tidak membalas pesan.

Ternyata tidak bisa. Domainnya terdaftar di akun pribadi si developer, hosting-nya atas nama dia, dan tidak ada yang menyimpan salinan kodenya. Urusan ganti satu nomor telepon berubah jadi beli domain baru, bikin ulang website dari screenshot, dan cetak ulang kartu nama. Domain lama masih menampilkan halaman mati selama berbulan-bulan.

Cerita semacam ini saya dengar beberapa kali setiap tahun. Developernya biasanya bukan orang jahat. Ada yang pindah kota, dapat kerja kantoran, laptopnya hilang, atau memang lupa. Masalahnya, si pemilik usaha dari awal tidak pernah memegang komponen website-nya sendiri.

Tiga hal yang membentuk "website Anda"#

Saat orang bilang "website saya", biasanya yang dimaksud adalah tampilan di browser. Di belakangnya ada tiga hal terpisah, dan masing-masing bisa dimiliki orang yang berbeda.

Domain adalah alamatnya, namausaha.com. Domain disewa dari registrar per tahun. Siapa pun yang memegang akun registrar menentukan ke mana alamat itu mengarah, termasuk email Anda kalau memakai domain yang sama.

Hosting adalah tempat file website disimpan dan dikirim ke pengunjung. Tanpa akses ke akun hosting, Anda tidak bisa memperbaiki, memindahkan, atau sekadar melihat isinya.

Kode adalah website-nya sendiri: halaman, tampilan, gambar, dan panel admin kalau ada. Kalau Anda tidak memegangnya, satu-satunya orang yang bisa mengubah website adalah orang yang memegangnya.

Kehilangan kendali atas salah satunya saja sudah cukup membuat Anda bergantung pada itikad baik dan waktu luang orang lain.

Kok bisa website sendiri bukan milik sendiri?#

Jarang karena niat buruk. Biasanya karena ingin praktis.

Developer mendaftarkan domain di akunnya sendiri karena lebih cepat daripada memandu klien membuat akun. Hosting ditaruh di paket reseller milik developer karena lebih murah kalau beli banyak. Kodenya tersimpan di laptop developer karena klien tidak pernah memintanya, dan memang tidak tahu harus diapakan file zip itu.

Semuanya lancar, untuk sementara. Lalu developernya tidak bisa dihubungi, hubungan kerjanya memburuk, atau Anda ingin pindah ke developer lain. Di saat itulah semua orang baru tahu siapa yang sebenarnya memegang kunci.

Ada juga penyedia jasa yang sengaja membuat website di platform tertutup milik mereka. Website bisa dipakai selama Anda terus membayar, tapi tidak bisa dipindahkan. Itu model bisnis yang sah selama disampaikan jelas di awal. Jadi masalah kalau klien baru tahu saat mau pergi.

Yang perlu ditanyakan sebelum bayar DP#

Tanyakan ini sebelum membayar uang muka, dan minta jawabannya tertulis di penawaran atau perjanjian.

  1. Apakah domain didaftarkan atas nama saya, dengan email saya sebagai pemilik akun?

  2. Hosting-nya di mana, dan apakah akunnya memakai email saya?

  3. Apakah saya menerima source code lengkap setelah lunas?

  4. Kalau setahun lagi Anda tidak bisa dihubungi, bisakah developer lain melanjutkan tanpa Anda?

  5. Apakah ada lisensi (tema, plugin, font) yang harus saya perpanjang sendiri?

Developer yang baik tidak akan tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan ini. Kalau ada yang langsung defensif di pertanyaan pertama, itu sudah jadi jawaban.

Daftar serah terima#

Setelah website jadi dan lunas, inilah yang seharusnya Anda pegang. Simpan semuanya di password manager atau minimal di satu dokumen yang aman, jangan tercecer di riwayat chat.

Akun#

  • Login registrar domain, dengan email Anda sebagai pemilik, verifikasi dua langkah aktif, dan perpanjangan otomatis dinyalakan.

  • Login akun hosting, juga dengan email Anda. Untuk website statis biasanya Cloudflare Pages, Vercel, atau Netlify, dan paket gratisnya umumnya sudah cukup.

  • Akses DNS, kalau DNS dikelola di tempat lain selain registrar (Cloudflare cukup umum).

  • Login email bisnis, kalau email memakai domain Anda.

  • Login panel admin kalau website punya CMS, sebagai pemilik atau administrator, bukan sekadar editor.

Alat tracking dan pencarian#

  • Google Analytics, dengan Anda sebagai administrator property, bukan cuma bisa melihat.

  • Google Search Console, dengan akun Anda ditambahkan sebagai pemilik.

  • Meta Pixel dan akun iklan yang terhubung ke Business Manager milik Anda sendiri.

File#

  • Source code lengkap, idealnya di repository milik Anda (akun GitHub atas nama Anda), atau minimal dalam bentuk file zip.

  • File gambar asli, logo, dan font yang dibeli untuk proyek itu.

  • Catatan singkat tentang cara website dibangun dan dipasang, supaya developer lain bisa cepat melanjutkan.

Tanggal dan biaya#

  • Kapan domain habis masa berlakunya dan berapa biaya perpanjangannya.

  • Tagihan tahunan lain kalau ada: hosting, lisensi, email.

"Tapi saya tidak paham teknis"#

Tidak perlu paham. Anda tidak harus mengerti kode untuk memilikinya, sama seperti Anda tidak harus jadi montir untuk menyimpan BPKB mobil sendiri.

Yang penting akun-akunnya atas nama email Anda dan Anda bisa login. Kalau ada masalah, developer mana pun yang kompeten bisa melanjutkan dari situ.

Cara saya menanganinya#

Di setiap proyek saya, domain didaftarkan atas nama klien sejak hari pertama. Website statis ditaruh di akun hosting milik klien. Begitu pelunasan masuk, saya serahkan login domain, akun hosting, source code, dan akses admin, beserta catatan singkat cara semuanya terhubung. Tidak ada yang saya tahan, dan saya juga tidak "menyandera" website karena tagihan. Untuk itulah pembayaran dibagi 50% di awal dan 50% setelah Anda menyetujui hasilnya.

Ketentuan ini tertulis di setiap penawaran di halaman jasa saya, karena menurut saya memang sudah seharusnya begitu di mana pun.

Kalau Anda belum yakin website Anda sekarang milik siapa, mulai dari domainnya. Cek di layanan WHOIS, atau tanyakan langsung ke developer Anda domain itu ada di akun siapa. Kalau ternyata bukan atas nama Anda, jauh lebih mudah membereskannya sekarang, selagi semua pihak masih bisa diajak bicara baik-baik.

Butuh bantuan merapikan website yang sudah ada, atau ingin membuat website baru yang sepenuhnya milik Anda? Chat saya di WhatsApp.

  • kepemilikan website
  • domain
  • hosting
  • serah terima

Bagikan artikel ini

Andika Dwi Saputra

Ditulis oleh

Andika Dwi Saputra

Web developer freelance, Semarang

Saya membuat landing page dan website company profile untuk UMKM dan perusahaan di Indonesia. Di sini saya menulis hal yang saya pelajari dari proyek nyata: harga, kecepatan, dan cara klien tetap memegang website-nya sendiri.

Jadikan sumber pilihan di GoogleArtikel andikadevs tampil lebih dulu di Berita Utama Google saat membahas yang Anda cari.

Butuh sistem atau website seperti ini?

Saya merancang dan membangun website cepat, sistem internal, dan otomasi untuk bisnis dan instansi. Harga pasti dan komunikasi langsung.

ENDKontak

Mari bangun sesuatu bersama.

Sedang mencari developer untuk posisi remote, atau punya sistem yang perlu dibenahi? Saya senang berdiskusi.